Alor Punya Potensi Pariwisata Berskala Dunia, Dr. Mesak Awang: Tantangan Terbesar Ada pada Kemampuan Mempertahankan Wisatawan

KALABAHI – Kabupaten Alor tidak hanya dikenal sebagai surga bahari di kawasan timur Indonesia, tetapi juga memiliki potensi pariwisata yang diakui hingga tingkat dunia. Kekayaan alam, budaya, sejarah, dan keramahan masyarakat menjadi modal besar yang sulit ditandingi daerah lain. Namun, di balik potensi tersebut, masih terdapat pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, yakni bagaimana membuat wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga ingin kembali berkunjung.
Pandangan tersebut disampaikan Dr. Mesak Yamres Awang, S.E., M.M. dalam orasi ilmiah bertajuk “Inovasi Pemasaran untuk Retensi Wisatawan: Penguatan Branding Kabupaten Alor” pada Rapat Senat Luar Biasa Wisuda Sarjana Angkatan XVI Universitas Tribuana Kalabahi yang berlangsung di Kalabahi, Sabtu (1/8/2026).
Dalam paparannya, Dr. Mesak menegaskan bahwa Alor merupakan daerah yang dianugerahi potensi wisata kelas dunia. Kabupaten ini memiliki sedikitnya 39 daya tarik wisata yang tersebar di berbagai wilayah, didukung oleh keindahan Taman Laut Selat Pantar yang telah dikenal luas oleh para penyelam mancanegara. Bahkan, pemerintah pusat telah menetapkan kawasan Alor-Lembata sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
Meski demikian, menurutnya, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan kemampuan mempertahankan wisatawan agar kembali berkunjung. “Ada kesenjangan antara besarnya potensi destinasi yang dimiliki Alor dengan kemampuan kita mempertahankan wisatawan. Tantangan hari ini bukan lagi sekadar mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana membangun pengalaman yang membuat mereka ingin kembali,” ungkapnya.
Motivasi Wisatawan Menjadi Kunci
Berdasarkan hasil riset doktoralnya, Dr. Mesak menjelaskan bahwa motivasi perjalanan (Travel Motivation Value) menjadi faktor utama yang menentukan keputusan wisatawan untuk melakukan kunjungan ulang. Menurutnya, wisatawan yang datang ke Alor tidak hanya mencari panorama alam, tetapi juga ingin merasakan pengalaman yang autentik melalui sejarah lokal, kebudayaan, tradisi masyarakat, hingga interaksi sosial yang hangat dengan warga setempat. “Ketika pengalaman emosional itu terpenuhi, peluang wisatawan untuk kembali akan semakin besar,” jelasnya.
Selain motivasi perjalanan, ia juga menemukan bahwa kepercayaan terhadap destinasi (Destination Trust) dan persepsi nilai (Perceived Value) menjadi fondasi penting dalam membangun loyalitas wisatawan. Jaminan keamanan, khususnya bagi wisata bahari dan penyelaman di perairan Selat Pantar, transparansi pelayanan, serta harga produk lokal yang wajar akan meningkatkan kepercayaan wisatawan terhadap Alor sebagai destinasi yang layak dikunjungi berulang kali.
Alor Memiliki Keunggulan yang Sulit Ditiru
Dalam orasinya, Dr. Mesak menguraikan bahwa berdasarkan pendekatan Resource-Based View (RBV), Kabupaten Alor telah memenuhi unsur VRIO (Valuable, Rare, Inimitable, Organized). Menurutnya, kekayaan sejarah seperti budaya Moko, tradisi tenun ikat, kampung adat, keindahan laut, hingga keramahan masyarakat merupakan aset yang bernilai tinggi, langka, dan sulit ditiru oleh daerah lain. “Yang menjadi pekerjaan rumah kita adalah memastikan seluruh potensi tersebut dikelola secara profesional, terorganisasi, dan berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan lembaga adat,” katanya.
Tiga Langkah Strategis Membangun Pariwisata Berkelanjutan
Sebagai bentuk kontribusi akademik bagi pembangunan daerah, Dr. Mesak menawarkan tiga strategi utama yang dapat diterapkan untuk memperkuat daya saing pariwisata Alor.
Pertama, melakukan transformasi promosi wisata menuju motivation-driven storytelling, yakni mengubah pola promosi yang selama ini hanya menampilkan keindahan objek wisata menjadi narasi yang mampu menceritakan sejarah Moko, filosofi tenun ikat, kehidupan masyarakat adat Takpala, hingga nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Kedua, memperkuat pemberdayaan masyarakat lokal melalui peningkatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), standardisasi pelaku UMKM, serta mendorong masyarakat menjadi pemilik narasi pariwisata agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara adil hingga ke tingkat desa.
Ketiga, membangun tata kelola kolaboratif yang melibatkan Pemerintah Daerah, Universitas Tribuana Kalabahi, lembaga adat, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menyusun regulasi konservasi kelautan, menjamin standar keamanan wisata bahari, serta mengembangkan desa wisata secara berkelanjutan.
Sarjana Harus Menjadi Solusi bagi Daerah
Sejalan dengan tema wisuda “Ilmu Berdampak, Masyarakat Berdaya”, Dr. Mesak juga memberikan pesan inspiratif kepada para lulusan Universitas Tribuana Kalabahi. Ia menegaskan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari perjalanan belajar, melainkan awal dari tanggung jawab untuk mengabdikan ilmu kepada masyarakat.
“Toga sarjana bukan tanda selesai belajar, tetapi merupakan surat utang kepercayaan dari masyarakat Alor. Ilmu yang dimiliki harus diwujudkan menjadi solusi nyata bagi pembangunan daerah, memperkuat ekonomi masyarakat, serta menjaga keberlanjutan potensi pariwisata yang menjadi kebanggaan Bumi Nusa Kenari,” pesannya.
Profil Singkat Dr. Mesak Yamres Awang
Dr. Mesak Yamres Awang, S.E., M.M., lahir di Puntaru, Kabupaten Alor, pada 10 Januari 1983. Ia merupakan akademisi sekaligus peneliti yang menaruh perhatian besar pada bidang pemasaran pariwisata, khususnya perilaku wisatawan dan pengembangan destinasi.
Pendidikan sarjananya ditempuh di Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, kemudian melanjutkan Magister Manajemen di Universitas Budi Luhur Jakarta. Gelar Doktor Ilmu Sosial diraih dari Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 2025 dengan disertasi yang meneliti pengaruh travel motivation value terhadap minat kunjungan ulang wisatawan di kawasan Alor-Lembata.
Saat ini, Dr. Mesak mengabdi sebagai dosen tetap Fakultas Ekonomi Universitas Tribuana Kalabahi sekaligus menjabat sebagai Ketua Program Studi Pariwisata. Ia juga aktif melakukan penelitian dan telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah di jurnal nasional maupun internasional bereputasi, termasuk jurnal yang terindeks SINTA dan Scopus.
Melalui gagasan dan hasil riset yang dipaparkannya, Dr. Mesak berharap Alor tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata yang indah, tetapi juga mampu menjadi daerah yang sukses membangun pengalaman wisata berkualitas sehingga setiap wisatawan yang datang memiliki alasan kuat untuk kembali menikmati pesona Bumi Nusa Kenari.